Mencari Ikan Berujung Hukuman

Meski suka jahil tingkahnya, Keevy merupakan salah satu murid kepercayaan Bu Gurunya. Ketika itu tepat jam istirahat pertama, saat Keevy sedang memakan krawuh dan dadar jagung bersama temannya, dia melihat Bu Gurunya mengendarai motor Honda Grandnya warna hitam keluar sekolah.

Melihat itu dia merasa senang karena setelah jam istirahat pastinya jam kosong, karena gurunya telah pulang dari sekolah. Kemudian Keevy, Yayan, Dol, Itong, Pur, dan Mbah berniat untuk menacari ikan di sungai depan sekolah. Kebetulan saat itu air sungainya terbilang sedikit hanya semata kaki dan di beberapa sisi yang lain hanya terdapat lumpur.

Mereka melepas kaos kaki dan sepatu mereka dan berjalan menuju sungai, tanpa pikir panjang mereka langsung turun ke sungai bersenjatakan wakul (sebuah wadah dari bahan plastik, terdapat lubang kecil – kecil seperti jaring), mereka berjalan di sepanjang sungai sambil menggoyangkan kaki mereka di tengah lumpur sampai ikan – ikan muncul kepermukaan.

Dan akhirnya ikan yang di tunggupun bermunculan, dengan senang hati mereka menangkap beberapa jenis ikan seperti ikan kutuk, ikan betik dan ikan sepat. Saking girangnya mereka tidak tahu kalau baju dan celana mereka basah serta terdapat cipratan lumpur.

Di tengah serunya siang itu mencari ikan, tiba – tiba Keevy mendengar suara yang mengganggunya. “Vyy..Keevy….ayo masuk kelas, Bu Guru sudah datang”, Teriak teman sekelasnya Venya. Namun Keevy pura – pura tidak mendengarnya dan dia bilang ke teman yang lain, “Mbujuki Vennya iku, nggak mungkin Bu Guru mbalik maneh.” (Bohong itu si Vena, Tidak Mungkin Bu Guru kembali lagi). Dan mereka melanjutkan mencari ikan meskipun Venya terus berteriak meberitahu.

Seketika Keevy dan temannya terdiam dan mematung, melihat Bu Gurunya bediri dari jauh sambil mengancungkan penggaris kayu besar panjang 1 meter warna coklat, sambil berteriak, “Keevy masuk tidak kalian ?”

Merekapun berlari melewati Bu Gurunya menuju kamar mandi untuk membersihkan lumpur yang menempel di kaki mereka dan segera masuk ke dalam kelas. “Blaaak” terdengar penggaris kayu yang di pukulkan ke lengan Keevy oleh Bu Gurunya, sambil marah berkata ” Iki Keevy yo podo ae nggak isok di percoyo maneh” (ini Keevy sama saja dengan yang lainnya tidak bisa dipercaya lagi). “Kalau di panggil temannya untuk masuk ya masuk jangan pura – pura tidak dengar, Lanjut Bu Gurunya”.

Sekelaspun terdiam membisu mendengar setiap ucapan gurunya, Keevypun tertunduk memperhatikan setiap nasehat gurunya dan merasa bersalah telah mengecewakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *