Berpetualang Mencari Ikan Tawes

Pagi itu, kabut tebal menyelimuti desa, membuat udara terasa dingin menusuk. Setiap langkah mereka meninggalkan jejak di tanah basah, dan suara gemericik air sungai kecil terdengar samar di kejauhan.

Keevy berkumpul di sebelah rumahnya dengan Wakbok dan Pak Tua Berambut Kriting. Kemudian mereka berjalan melewati perkebunan tebu milik tetangganya dan sampailah pada aliran sungai kecil yang terlihat banjir. Merek berjalan menyusuir sungai ke arah Utara.

Pak Tua Berambut Kriting membawa aki di pundaknya, jaring di tangan kiri dan besi kecil panjang di tangan kanan untuk menyetrum ikan. Sedangkan Wakbok membawa keranjang untuk tempat ikan. Sambi berjalan di pinggir sungai, Pak Tua Berambut kriting memasukkan besi kecil kedalam air sungai dan diarahkan di semak-semak. Ketika ada ikan yang mengambang tangan kirinya mengambilnya dengan jaring, kemudian ikan di dalam jaring diambil oleh Keevy dan diberikan kepada Wakbok.

Keevy bertanya kepada Pak Tua Berambut Kriting, “Pak Tua, kenapa kok banyak ikan Tawes? Padahal seharusnya di sungai ini tidak ada ikan tawes?. “Pak Tua Berambut Kriting pun menjawab, ‘Karena hujan semalam yang sangat lebat, beberapa tambak di utara desa kita banjir. Itulah mengapa ikan-ikan tawes sampai ke sungai ini.’”

Keevypun senyum senang mendengar itu dan membayangkan akan membawa pulang banyak ikan tawes hari ini. Selain ikan di perjalanan Keevy dan temannya menemukan beberapa ular dengan motif papan catur dan kulit berkilau tampak melintas di antara rumput, sementara di semak-semak lain ular bermotif loreng menyerupai macan melata pelan. Setiap kali Keevy melihat ular-ular ini, dia tak bisa menahan rasa kagumnya terhadap keindahan alam yang liar. Tak terasa seharian mencari ikan, senjapun mulai tiba dan Pak Tua Berambut Kriting memutuskan mengajak Keevy dan Wakbok untuk pulang.

Merekapun berjalan melewati perkebunan tebu milik tetangganya, “Ketika hampir sampai di rumah, Keevy merasakan jantungnya berdebar. Dia melihat kerumunan orang, termasuk orangtuanya, berdiri di halaman dengan ekspresi serius. ‘Darimana saja kalian?’ suara lantang orangtua Keevy membuatnya terdiam, kaget. Ikan yang dibawanya terasa lebih berat di tangan. Keevy menunduk, sadar dia telah pergi seharian tanpa pamit.”

Melihat Keevy yang ketakutan dengan menenteng ikan ditangannya, Orangtua Keevypun mencoba tersenyum agar Keevy tidak terlihat takut, kemudian Orangtua keevy bertanya…”Kamu mau ikan itu di goreng atau dibakar?’ tanya orangtua Keevy dengan senyum yang mencoba meredakan kekhawatiran anaknya. Keevy hanya mengangguk dua kali, masih ragu-ragu, tapi kemudian ikut tersenyum. ‘Goreng, Ma,’ bisiknya akhirnya.

Keevy duduk di dapur, mengamati Mamanya yang sibuk menggoreng ikan tawes dengan bumbu sederhana. Aroma ikan yang digoreng menyebar ke seluruh ruangan, menciptakan suasana hangat. Keevy merasa sangat puas, meskipun pagi tadi ia takut dimarahi. Di meja, nasi panas dan sambal sudah siap. Saat gigitan pertama ikan garing itu menyentuh lidahnya, Keevy tersenyum, merasa hari itu sangat sempurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *