Nekeran

Selepas pulang sekolah, Keevy segera ganti baju dengan baju bermain, kemudian makan siang dengan tahu bali dan sayur bening. Setelah makan dia mengambil tiga butir neker (kelereng) di wadah yang berisi ratusan kelerang. Sambil berlari dia teriak “Maa…aku nekeran di depan pasar!”

Dia berlari melewati rumah Bu RT di gang sempit yang hanya cukup untuk satu orang. Setelah keluar dari gang, Keevy melewati kandang ayam milik penjual soto ayam yang selalu ramai di pagi hari. Soto ayam ini juga merupakan sarapan favorit Keevy, terutama nasi dengan kuah soto dan peyek kacang yang selalu ia tumbuk hingga menyatu dengan kuahnya.

Dalam perjalanan ke pasar, Keevy bertemu Dwi dan Febri. Mereka berjalan bersama menuju pasar tradisional di Desa Mojokerto, yang berhadapan dengan terminal angkutan kota. Terminal ini digunakan oleh para pekerja, siswa, dan warga desa yang hendak bepergian ke kota atau ke terminal bus antar kota.

Di depan pasar, terdapat pangkalan ojek yang sering digunakan warga desa untuk pulang setelah turun dari angkutan kota. Keevy, Dwi, dan Febri bertemu dengan Jef dan Yuyus di belakang pangkalan ojek untuk bermain kelereng. Mereka mengocok kelereng di tangan Dwi, lalu melemparkannya ke tembok pasar. Kelereng Keevy meluncur cepat dan berada di posisi terdepan.

Keevy segera menghampiri kelerengnya. Dengan cekatan, ia meletakkan kelereng di antara jempol dan telunjuk, lalu mendorongnya dengan kencang. “Ctak!” bunyi terdengar saat kelereng Keevy mengenai kelereng Dwi. Satu persatu kelerengan Febri, Jef, dan Yusuf di babat habis oleh Kevy dan Keevy menjadi pemenang pada awal bermain.

Waktu sudah menjelang senja dan mereka memutuskan pulang kerumah masing-masing untuk mandi dan segera shalat magrib di mushola dekat pasa tradisional tersebut. Keevy pulang dengan penuh ceria karena dia berhasil membawa puluhan kelerang di sakunya hanya dengan bermodalkan 3 kelerang yang Keevy bawa tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *