Pada minggu pagi yang cerah, Keevy, kakaknya, dan lima orang teman berkumpul di Dam, sebuah selokan air yang lebarnya sekitar satu meter dan dalamnya setengah meter. Selokan ini cukup panjang, membentang melewati beberapa desa, meskipun Keevy tidak tahu pasti di mana ujungnya. Di sekitar Dam, banyak tumbuh tanaman liar dan pohon bambu yang rindang. Kadang, air di Dam meluap saat musim hujan, atau ketika limbah dari pabrik gula dibuang ke sana. Tempat ini juga sering dijadikan tempat bermain, memancing, dan kadang untuk buang air besar oleh penduduk sekitar yang belum memiliki WC.
Dam terletak dekat tempat penitipan kayu (TPK) yang teduh karena pohon trembesi yang tinggi dan besar. Setelah Keevy, kakaknya, Jepang, Errw, Gondes, Wawan, dan Dwi berkumpul, perjalanan pun dimulai dengan berjalan kaki. Di perjalanan, Errw dan kakak Keevy membawa pisau yang terselip di balik baju, sementara Keevy dan Gondes membawa katapel dari kayu pohon asem yang sudah dibakar
Sepanjang perjalanan, kami melewati ribuan batang tebu hijau dan ungu yang sedang dipanen. Kami berhenti sejenak untuk meminta beberapa batang tebu dari petani. Kakak dan Errw mengeluarkan pisau dan memotong beberapa batang untuk dinikmati. Rasa manis tebu langsung menghilangkan rasa dahaga kami.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Siget, bekas galian tanah yang kini dipenuhi air. Begitu sampai, semangat kami langsung melonjak. Tanpa ragu, kami melepaskan pakaian dan berlari ke arah air. “Byuuur!” cipratan air bercampur dengan gelak tawa kami. Kami berenang begitu lama sampai jari-jari tangan keriput dan tubuh terasa dingin. Akhirnya, kami memutuskan naik ke daratan dan mengenakan pakaian.
Dalam perjalanan pulang, kami melewati ribuan tanaman tebu lagi. Di tengah jalan, kami melihat kawanan burung mprit. Keevy dan Gondes mencoba menembaknya dengan katapel, tapi selalu meleset. Sebelum sampai rumah, kami mengambil beberapa batang tebu lagi untuk dibawa pulang, menyelesaikan petualangan kami hari itu.
Saat kami pulang dengan tebu di tangan, Keevy merasakan kelelahan di tubuhnya. Namun, kebahagiaan yang ia rasakan setelah seharian bermain di Siget membuatnya merasa puas. Meski matahari mulai terbenam, rasa puas karena kebersamaan dengan teman-temannya tetap hangat di hatinya


Leave a Reply