Di sebuah desa kecil di Kabupaten M, berdiri sebuah perusahaan penggergajian kayu yang sudah lama beroperasi. Bangunannya terbuat dari kayu dengan desain industrial yang kuat dan kokoh. Di dalamnya, berbagai ukuran gergaji mesin berjejer rapi. Ada sebuah kereta dorong yang digunakan untuk mendorong batang kayu menuju mata gergaji, serta sebuah katrol hidrolik yang menggantung di langit-langit untuk mengangkat kayu-kayu besar dari dalam kontainer.
Kayu-kayu yang datang umumnya berasal dari hutan dengan diameter yang cukup besar—sekitar dua hingga tiga meter. Setelah dipotong sesuai ukuran, hasilnya tidak hanya berupa balok-balok kayu, tetapi juga menyisakan limbah seperti kulit dan serbuk kayu yang menggunung tinggi. Limbah itu tidak dibuang begitu saja; masyarakat sekitar memanfaatkannya sebagai bahan bakar alternatif untuk tungku tanah liat yang masih banyak digunakan.
Di area perusahaan itu juga terdapat bangunan kantor, beberapa kamar, dan satu rumah tua yang menjadi tempat tinggal dua kepala keluarga asal Maluku. Satu keluarga tinggal di dalam kantor bersama ketiga anaknya, sementara keluarga Keevy—ayah, ibu, kakak, adik, dan Keevy sendiri—menempati rumah tua dengan gerbang besi besar. Lantai rumah itu masih berupa tanah, dan di bagian belakangnya terdapat ruangan penyimpanan kayu serta sebuah mesin pemecah batu yang besar dan bersuara nyaring saat dioperasikan.
Sekolah Keevy berada tepat di seberang perusahaan. Di belakang sekolah, terdapat sebuah kuburan umum yang diapit pohon-pohon jati tinggi dan rimbun. Salah satu pohon jati menjulang besar dan tampak menyeramkan bagi anak-anak.
Suatu siang yang cerah, sepulang sekolah, Keevy dan saudara-saudaranya berlari menuju gundukan serbuk kayu. Tumpukan itu begitu tinggi hingga melebihi dua kali tinggi badan mereka. Mereka memanjat ke atas, lalu menggelundungkan badan ke bawah sambil tertawa terbahak-bahak. Debu kayu menempel di pakaian, tapi tak ada yang peduli. Mereka sedang bersenang-senang.
“Lihat tendanganku!” teriak Keevy sambil melompat meniru gaya Jet Li. Ia menendang angin ke arah saudaranya, yang pura-pura terkena lalu menjatuhkan dirinya ke atas tumpukan serbuk. Tertawa mereka semakin kencang, dan permainan kungfu pun berlanjut.
Setelah lelah bermain, mereka beranjak ke pohon keres yang tumbuh di belakang rumah. Dengan lincah mereka memanjat, duduk bersila di dahan, lalu memetik buah keres dan memakannya langsung dari pohon. Angin sore yang sejuk berhembus lembut, membuat mereka memejamkan mata dan berbaring santai di atas dahan, menikmati ketenangan sore hari.
Matahari mulai turun. Warna langit berubah jingga. Mereka pun turun dari pohon dan kembali ke rumah untuk mandi dan bersiap mengaji di belakang rumah. Hari itu mungkin tampak biasa bagi orang lain, tapi bagi Keevy, itu adalah salah satu hari paling berharga dalam hidupnya—hari yang penuh tawa, debu serbuk kayu, dan manisnya buah keres di ujung ranting.


Leave a Reply